Analisa Di Balik Program KB

Melihat berita di media massa saat ini semakin mengharukan. Kenyataan pahit yang harus di rasakan kaum muslimin berupa pembantaian di mana-mana kian merajalela di berbagai negri. Entah bagaimamapun cara pembunuhan yang dilakukan oleh orang-orang kuffar tersebut tentunya menyebabkan kerugian yang bisa dilihat dari segi material maupun dari jiwa-jiwa yang telah banyak meninggal. Pembantaian demi pembantaian itu selalu menelan nyawa dari yang tua dan yang muda, sampai bayi-bayi pun juga menjadi korbannya.

Lazimnya, orang yang normal psikologisnya akan merasa lebih baik kehilangan banyak materi daripada harus kehilangan anggota keluarga dan sanak saudaranya. Seberapa sedihkah orang yang kehilangan harta bendanya, semua assetnya yang berharga yang mereka usahakan hingga sempoyongan bertahun-tahun? Dibandingkan dengan kehilangan anak-anaknya yang mereka cintai, dibandingkan kehilangan orangtuanya yang mereka sayangi, dibandingkan harus menangis pedih kehilangan suami atau istrinya yang selama ini mendampingi hidupnya? Semua materi dan harta benda tersebut tidak ada apa-apanya.

Mari kita lihat lagi pembantaian di Syiria yang dikomandoi oleh Presiden Basyar Assad, perang Palestina-Israel hingga saat ini, pembantaian muslim di Rohingnya oleh kafir musyrikin Budha, pembantaian di Mesir yang dipimpin oleh jenderal El-Sisi dan sekutunya yang juga disponsori oleh raja-raja jazirah Arab sendiri, dan bombardir di daerah konflik lainnya. Belum lagi di Indonesia ada kelakuan edan para serdadu Denci 88 (baca Densus Banci 88) yang seenaknya main tembak dengan brutalnya. Jika kenyataan dilapangan mencoba mengkalkulasikan jumlah kaum muslimin yang meninggal dari awal mula pembantaian hingga saat ini entah akan mencapai berapa deret digit banyaknya. Dan kalaupun semua korban meninggal tersebut didokumentasikan berapa banyak saja kertas yang dibutuhkan?

Musuh-musuh Allaah memang tidak akan pernah puas dan tidak akan pernah tinggal diam untuk memberangus kaum muslimin. Sembari menguliti bayi-bayi, mereka sudah siap dengan strategi jitu lainnya untuk menekan jumlah kelahiran kaum muslimin dunia. Satu ide bagus dari setan yang mungkin tidak disadari oleh kita adalah program “Keluarga Berencana”. Tidak sadarkah kita apa sebenarnya tujuan dari program yang disingkat KB ini? Dengan slogan kebanggaannya mengatakan “Dua Anak Lebih Baik” begitu membutakan. Seakan-akan program Keluarga Berencana adalah senjata handal pemerintah untuk mengatasi kemiskinan dan menekan ledakan penduduk. Jika alasannya adalah dua hal itu, maka perlu dikaji lagi apa tujuan yang sebenarnya. Apakah itu memang benar atau hanya sebagai alasan saja? Yang sengaja digunakan untuk membungkus kekejian menjadi indah dipandang mata.

Bagaimanapun,berniat menekan jumlah kelahiran kaum muslimin adalah sebuah kejahatan. Pemerintah berkata bahwa Keluarga berencana akan menjadi salah satusolusi bagi masalah kemiskinan dan ledakan penduduk. Lalu siapa yang membikin masyarakat Indonesia miskin, kelaparan, dan banyak orang yang terlantar? Bukankah pemerintah sendiri yang melakukannya? Para pejabat negara yang seharusnya mengabdi kepada negara malah dengan seenak wudel sendiri memanfaatkan pangkat dan jabatan untuk meraup uang dengan menjual sumber daya yang terkandung di bumi pertiwi kepada orang asing.

Lihatlah dimana kini emas-emas di tanah Papua yang dulu katanya melimpah. Entah kemana perginya uang hasil tambang emas di PT Freepot itu tak pernah tercium aromanya. Yang jelas sebagian besar logam kuning itu lari ke orang-orang asing dan bukan digunakan untuk keperluan kemakmuran rakyat. Lihat juga minyak-minyak dari dalam perut Indonesia yang sampai saat ini dikuasai dan dikelola oleh instansi-instansi dari luar. Sungguh malang rakyat yang sekarang tinggal menikmati sisanya. Giliran minyak-minyak itu hampir habis, pemerintah berkoar-koar teriak “hemat energi” lewat artis-artis yang dijadikan wayang untuk menutupi kejelekan mereka.Kenapa tidak dari dulu pemerintah mengelola emas-emas di Papua itu? Kenapa tidak sejak awal pemerintah mengelola sendiri minyak-minyaknya? Kalau sudah begini jadinya, rakyat juga yang harus menanggung akibatnya. Sedangakan para pejabat negara malah sedang bercucuran air liurnya menikmati recehan hasil mengemis dari orang-orang asing.

Pemerintah juga berkata bahwa Keluarga Berencana adalah program untuk menekan ledakan penduduk. Sebenarnya yang dikhawatirkan dari ledakan penduduk itu adalah persaingan dalam lapangan pekerjaan yang dampaknya adalah kemiskinan dan kelaparan. Sebanyak apapun penduduk dalam suatu negara, asal lapangan pekerjaan terpenuhi kemiskinandan kelaparan akan bisa dikendalikan. Sedangkan yang dilakukan pemerintah malah sebaliknya, membiarkan semua kekayaan alam dicuri begitu saja oleh orang lain dan membuat rakyatnya menjadi miskin.Memangnya dimana pernah kita melihat ledakan penduduk di Indonesia? Toh yang kita lihat ledakan itu di tempat-tempat hiburan seperti diskotik, konser musik dan tempat sejenis lainnya. Memangnya pernah tejadi ledakan peduduk di majelis-majelis ilmu? Adakah ledakan penduduk di waktu shalat shubuh?

Sekarang masyarakat yang harus menjalankan kemauan pemerintah dengan mengikuti program Keluarga Berencana. Tidakkah kita menengok penderitaan kaum muslimin yang rela tidak rela harus mau kehilangan keluarga dan sanak saudaranya karena dibantai. Kalau penduduk Indonesia yang mencapai 80% adalah kaum muslimin diminta cukup mempunyai dua anak saja, maka siapa yang nanti akan meneruskan perjuangan para ulama dan mujahidin untuk menghadapi bengisnya orang-orang kuffar?

Rasulullaah menyuruh kita untuk menikahi wanita yang subur bukan tanpa alasan. Tapi lebih memperhatikan bagaimana keturunan dari pernikahan kita yang nantinya menjadi generasi penerus menyebarluaskan dakwah Islam.

Anas Ibnu Malik Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam memerintahkan kami berkeluarga dan sangat melarang kami membujang. Beliau bersabda: "Nikahilah perempuan yang subur dan penyayang, sebab dengan jumlahmu yang banyak aku akan berbangga di hadapan para Nabi pada hari kiamat." [Riwayat Ahmad. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban].

Yang lebih mengejutkan lagi ternyata program Keluarga Berencana ini merupakan proyek besar yang sudah direncanakan oleh orang-orang yahudi untuk menekan jumlah kaum muslimin. Tentunya dengan maksud agar tidak semakin banyak yang melawan mereka.Dalam Kitab Zohar ada sebuah ayat yang menarik. “Angka Kelahiran Non Yahudi harus ditekan sekecil mungkin.” Ayat ini menjadi landasan teologis untuk mengekang laju pertumbuhan ghoyim (orang-orang non Yahudi).

Penulis sendiri adalah seorang mahasiwa yang belajar di sebuah perguruan tinggi kesahatan. Namun bukan berarti tunduk patuh dengan semua ilmu yang dikaji di dalam kesehatan itu sendiri. Karena tidak semua ilmu harus kita percaya kebenarannya dan harus kita terapkan. Kita harus jeli, teliti dan selektif memilih dan memilah mana yang bermanfaat dan mana yang justru menjerumuskan kaum muslimin. Maka bijaklah, karena sebenarnya ada tujuan tersembunyi dibalik Kelarga Berencana.
Share on Google Plus

About Dimaz Revananda

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment